Perancangan Pengusir Nyamuk Elektronik Sebagai Alternatif Pencegahan Demam Berdarah

PERANCANGAN PENGUSIR NYAMUK ELEKTRONIK SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH

Sopan Indragandi, Ahmad Muqorobin, Aprillia Kasih Ugiyatri, Irianto Iska

Jurusan Fisika, Universitas Bengkulu, Bengkulu

ABSTRAK

Demam Berdarah (DB) telah menjadi penyakit yang mematikan, selama 40 tahun terakhir ini. Di Indonesia, Hingga awal Oktober 2005, kasus DBD di 33 provinsi mencapai 50.196 kasus,  dengan 701 di antaranya meninggal. Berbagai upaya untuk mengatasi penularan penyakit ini telah banyak dilakukan oleh pemerintah, namun hal itu belum cukup untuk mengatasinya.

Salah  satu  alternative  yang  dapat  dijadikan  sebagai  pencegahan  penularan penyakit ini adalah dengan alat pengusir nyamuk yang memanfaatkan gelombang suara.  Alat  ini  menghasilkan  suara  dengan  frekuensi  sekitar  100  Hz  dengan intensitas 40 dB yang dapat mengusir nyamuk.

Ujicoba alat ini dilakukan di dua tempat, yaitu di laboratorium dan di rumah- rumah  penduduk. Pada ujicoba di laboratorium, mula-mula nyamuk di biakkan dengan   cara   pemeliharaan   jentik-jentik   nyamuk   yang   didapat   di   sekitar perumahan penduduk. Jentik-jentik nyamuk ini dipelihara dalam kotak kaca yang dikondisikan sesuai dengan kondisi yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Kemudian nyamuk-nyamuk ini  digunakan sebagai objek dalam pengujian alat.

Dari  hasil  pengamatan  yang  dilakukan  di  dua  tempat  terpisah,  yaitu  di laboratorium dan di rumah penduduk, diketahui bahwa nyamuk-nyamuk yang ada pada  kedua  tempat  tersebut  cenderung  menjauh.  Alat  ini  diharapkan  dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pencegahan penularan penyakit demam berdarah.

Kata Kunci: nyamuk Aedes aegypti, frekuensi, intensitas, demam berdarah

PENDAHULUAN

Demam Berdarah (DB) telah menjadi penyakit yang mematikan, selama 40 tahun terakhir ini. DB telah dikenal di lebih dari 100 negara dan 2,5 milyar orang tinggal di daerah tersebut.  Daerah tersebut antara lain Amerika, Asia Tenggara, Pasifik  Barat,  Afrika  dan  Laut  Tengah  bagian  timur.  Di  Indonesia,  penyakit demam  berdarah  merupakan  penyakit yang paling diwaspadai. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) menjadi momok tiap tahun. Sampai Mei 2005 di seluruh Indonesia tercatat 28.224 kasus; dengan jumlah kematian 348 orang. Hingga awal Oktober 2005, kasus DBD di 33 provinsi mencapai 50.196 kasus, dengan 701 di antaranya meninggal (case fatality rate 1,4 persen). Daerah terpaan DBD terbesar: DKI Jakarta (14.200  kasus). Kasus kematian tertinggi: Jawa Barat (147 orang). Data itu menunjukkan peningkatan  hampir dua kali lipat dari Mei hingga awal Oktober. Banyaknya kasus DBD ini seiring dengan datangnya musim hujan yang menyebabkan banyaknya genangan air. (Tempo. Februari 2006).

Virus dongue ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Dari 2960 jenis nyamuk yang  ada diseluruh dunia, 457 jenis diantaranya berada di Indonesia, yaitu 80 spesies Anopheles, 82  spesies Culex, 125 spesies Aedes aegypti, dan 8 spesies Mansonia, sisanya sebagai anggota dari genera yang tidak penting dalam penularan  penyakit.  Spesies  Aedes  aegypti  merupakan   spisies  yang  paling berperan  dalam  penularan  penyakit  demam  berdarah.  (Upik  Kesuma  Hadi,

2000).

Spesies Aedes aegypti merupakan spesies nyamuk yang paling diwaspadai di seluruh dunia. Nyamuk jenis mempunyai fase perkembang biakan yang sangat singkat, yaitu hanya memerlukan waktu kurang lebih dua minggu untuk satu kali daur hidupnya. Jenis nyamuk ini  biasanya berkembang biak di tempat-tempat besar  yang  berisi  air,  genangan-genangan  air  yang  bersih,  di  celah-celah  dan lubang-lubang, pada kondisi udara yang baik. Nyamuk jenis  ini  telah diketahui merupakan vector utama penularan penyakit demam berdarah.

DBD, atau  dengue  hemorhagic  fever  (DHF),  ditularkan  nyamuk  Aedes Aegypti yang telah terjangkit virus DBD. DBD disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe virus yang berbeda  antigen. Virus ini adalah kelompok Flavivirus dan serotipenya adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi tidak menimbulkan kekebalan  terhadap  serotipe  yang  lain.  Sehingga  orang  yang  hidup  di  daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi 4 kali seumur hidupnya.

Berbagai usaha pencegahan terhadap penyebaran penyakit yang disebabkan oleh  nyamuk ini telah banyak dilakukan. Salah satunya yaitu dengan menekan perkembangbiakan  nyamuk  tersebut,  yaitu  dengan  membersihkan  lingkungan yang dapat dijadikan tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, langkah pencegahan terhadap gigitan nyamuk ini yaitu dengan memanfaatkan berbagai  teknologi  yang  dapat  mengusir  nyamuk  ini,  misalnya  dengan  racun nyamuk bakar, racun nyamuk spray atau dengan cara melindungi diri  dengan lotion pengaman dan kelambu. Alternative pencegahan terbaru dilakukan dengan cara  biologis  yaitu  dengan  cara  menebar  jentik  nyamuk  ‘toxorhyntes’,  karena jentik  nyamuk  ini   bisa  menghambat  perkembangbiakan  nyamuk  penyebab penyakit DB tersebut

Berbagai cara pencegahan tersebut tentu saja memiliki dampak negatif baik dari segi kesehatan,. Misalnya penggunaan anti nyamuk bakar. Penggunaan anti nyamuk menyebabkan gangguan kesehatan berupa sesak napas akibat asap yang terisap  oleh  kita.  Contoh  lain  adalah  penggunaan  anti  nyamuk  semprot,  anti nyamuk  ini  mengandung  racun  yang  dapat   langsung   terisap  oleh  manusia, sehingga penggunaanya dalam waktu lama akan mengganggu kesehatan. serta jika dilihat dari segi ekonomi tidak ekonomis karena alat atau bahan yang digunakan sifatnya harus diganti – ganti (ditukar) belum lagi sifat nyamuk yang mungkin sudah  kebal terhadap pengaruh zat tersebut            Alat lain yang lebih aman adalah menggunakan  alat  pengusir  nyamuk  elektrik  berupa  mat.  Alat  ini  dirasakan kurang  ekonomis  karena                                     setiap  hari  kita  harus  mengganti  mat.  Untuk  itu diperlukan suatu alat pengusir nyamuk yang dapat digunakan dengan aman tanpa mengganggu kesehatan dan secara ekonomi harganya relatif murah.

Menurut    Dedi     Rusmadi    (2001),     Nyamuk     akan     merasa     terusik

(takut/menjauh) jika mendengar bunyi dengan frekuensi 100 Hz dengan intensitas

40  dB.  Hal  ini  merupakan  sifat  alamiah  nyamuk.  Alat  yang  dirancang  ini

dirangkai  sedemikian  rupa  sehingga  dapat  menghasilkan  frekuensi  tersebut. Sehingga alat ini dapat secara efektif dimanfaatkan sebagai alat pengusir nyamuk. Alat ini memiliki kelebihan antara lain:

1.      Baik bagi kesehatan manusia karena tidak menggunakan zat-zat kimia dan zat aditif

2.      Tidak menggangu     manusia karena frekuensi dan intensitasnya di bawah ambang pendengaran manusia.

3.      Ekonomis karena alat-alat penyusun mudah didapat di toko-toko elektronik dengan harga  terjangkau dan tahan lama (bisa digunakan berulang-ulang) dan bisa untuk semua lapisan masyarakat.

Alat yang telah dibuat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dalam rangka menghindarkan diri dari gigitan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu juga alat ini dapat  dijadikan sebagai informasi awal untuk pembuatan alat pengusir nyamuk yang lebih canggih dimasa yang akan datang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

Tahap 1. Perancangan alat

Alat  dan  Bahan  yang  digunakan  dalam  perancangan  alat  ini  meliputi:

resistor (100Ω, 680 Ω, 10 kΩ), trimpot 15 K, kondensator 0,5 ηF,  transistor BC548,  speaker  2”,  dioda,  dan  trafo.  Komponen-komponen  tersebut  disusun seperti gambar 1.  komponen-komponen ini dipilih sedemikian sehingga dapat menghasilkan nilai frekuensi yang diinginkan.

Gambar 1. Skema rangkaian alat

Tahap 2. Kalibrasi Alat.

Pada tahap ini rangkaian alat pengusir nyamuk dihubungkan dengan sumber

arus dc. Pada speaker dipasang osiloskop untuk mengukur frekuensi keluarannya. Frekuensi  keluaran ini dapat disesuaikan dengan cara mengubah nilai hambatan pada  trimpot.  Setelah  mendapatkan  nilai  frekuensi  yang  diinginkan,  resistor variable  ini  diganti  dengan  resistor   tetap  yang  nilainya  sama  dengan  nilai resistansi resistor variabel tersebut.

Tahap 3. Pengembang biakan nyamuk

Pada tahap ini jentik-jentik nyamuk yang diperoleh dari berbagai tempat ditetaskan   dalam   akuarium.   Jentik-jentik   nyamuk   tersebut   ditetaskan   dan dipelihara hinggaa menjadi  nyamuk dewasa. Tahap ini memakan waktu sekitar dua minggu. Setelah nyamuk dewasa, nyamuk-nyamuk ini tetap ditampung dalam akuarium tersebut, sampai ujicoba alat dilaksanakan.

Tahap 4. Ujicoba alat

Ujicoba alat ini dilakukan di dua tempat, yaitu di laboratorium dan di rumah penduduk.

-     Di laboratorium

Di laboratorium, alat ini diletakkan di dalam kotak kaca yang sebelumnya telah  dijadikan  sebagai tempat penetasan dan pembiakan nyamuk Aedes aegypti. Kotak kaca ini diletakkan di dalam ruangan 1×1 meter, sehingga nyamuk-nyamuk                     tidak dapat         keluar. Pertama-tama  alat                               ini        tidak dihidupkan,   kemudian   diamati   bagaimana   perilaku   nyamuk-nyamuk tersebut.  Setelah  dilakukan  pengamatan  dan  diambil  gambarnya,  alat dihidupkan dan diamati pula prilaku nyamuk-nyamuk tersebut. Perlakuan ini dilakukan 2 kali sehari, yaitu pada pagi hari dan sore hari selama 5 hari berturut-turut.

-     Di rumah penduduk

Setelah diujicoba di laboratorium, kemudian alat ini diujicoba di rumah- rumah penduduk. Dalam hal ini diambil sampel sebanyak 10 buah rumah di sekitar Kawasan  RT 18 Kelurahan Kandang Limun Kota Bengkulu. Untuk  masing-masing  rumah   dilakukan  pengamatan  selama  dua  hari berturut-turut dengan membandingkan antara  kondisi sebelum di pasang alat ini dan sesudah dipasang alat ini. Alat ini dipasang selama 6 jam, yaitu

3 jam  pada pagi hari (06:00 – 09:00) dan 3 jam pada sore hari (16:00 –

19:00).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Telah dilakukan percobaan alat yang dirangkai dan dilakukan pengamatan tentang  reaksi  yang  dilakukan  nyamuk  terhadap  suara  yang  dihasilkan  oleh rangkaian.

a. Percobaan di Laboratorium

Percobaan  di  laboratorium  diawali  dengan  penetasan  telur  nyamuk  di aquarium yang diletakan pada ruangan yang berukuran  1m x 1m dimana ruangan dalam keadaan tertutup sehingga nyamuk yang akan terbentuk tidak bisa keluar.

Telur diletakkan dalam air bersih dalam aquarium tersebut sampai menetas. Larva  mengalami empat kali pergantian kulit (instar) dan segera menjadi pupa. Bentuk pupa yaitu fase tanpa makan dan sangat sensitif terhadap pergerakan air. Keadaan ini hanya berlangsung 2-4  hari. Selanjutnya kulit pu4pa tersobek oleh gelembung  udara  dan  oleh  bentuk  dewasa  yang  melepaskan  diri,  setelah  itu dilakukan  pengetesan  reaksinya  terhadap  rangkaian.  Hasil  pengamatan  jarak terdekat rata-rata nyamuk terhadap alat sebelum alat dihidupkan dan setelah alat dihidupkan ditampilkan dalam tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Jarak terdekat rata-rata sebelum alat dihidupkan

Waktu                          Jarak Terdekat Nyamuk Terhadap Alat (cm)

0                                                   5

10                                                 10

20                                                  3

30                                                  7

20                                                 14

50                                                 12

60                                                  6

Rata-rata                                       8,142

Tabel 2.  Jarak terdekat rata-rata setelah alat dihidupkan

Waktu                          Jarak Terdekat Nyamuk Terhadap Alat (cm)

0                                                  45

10                                                 21

20                                                 24

30                                                 13

20                                                 20

50                                                 30

60                                                 21

Rata-rata                                      24,857

Dengan membandingkan kedua tabel tersebut dapat kita ketahui bahwa jarak nyamuk ke  alat cenderung menjauh setelah alat dihidupkan, yaitu sebelum alat dihidupkan   jarak   terdekat   rata-ratanya   adalah   8,142   cm   dan   setelah   alat dihidupkan jarak terdekat rata-ratanya adalah 24,857 cm.

Dari pengamatan yang telah dilakukan, pada nyamuk Aedes aegypti terdapat perbedaan setelah rangkaian dinyalakan dan disaat rangkaian dimatikan.                                  Saat rangkaian dinyalakan nyamuk tampak kacau dan cenderung berkumpul pada salah satu pojok ruangan yang jauh dari rangkaian dan ketika rangkaian dimatikan maka nyamuk nampak lebih tenang dan tidak terjadi pengelompokan pada pojok –pojok tertentu.

b. Percobaan di rumah penduduk yang banyak terdapat Aedes aegypti

Pada tempat yang kedua ini percobaan alat dilakukan pada jam-jam tertentu. Yaitu pada:

1.  Pada pagi hari

Dilakukan sekitar pukul 06:00 sampai dengan pukul 09:00 WIB, hal ini dilakukan  karena  pada  jam-jam  ini  nyamuk  mulai  aktif  keluar  untuk mencari makanan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan cara rangkaian dinyalakan  pada  ruangan  yang  bebas  (tanpa  pembatas  tertentu),  dan dilakukan pengamatan terhadap jumlah gigitan nyamuk terhadap manusia pada pagi hari dan dibandingkan dengan jumlah gigitan  pada hari-hari biasa    tanpa   menggunakan  alat.     Hasil            pengamatan                    selengkapnya ditampilkan pada tabel 3 dan 4.

2.  Pada sore hari

Percobaan untuk sore hari ini dilakukan pukul 16:00 sampai 19:00. pada jam-jam ini nyamuk kembali aktif karena suhu udara pada sore hari mulai menurun yang mana suhu saat terbut sangat cocok/sesuai untuk nyamuk.

Tabel 3.  Jumlah gigitan nyamuk saat rangkaian tidak  dinyalakan

Rumah

                                     Pagi hari

Jumlah igitan                                    

Sore hari

1

4

3

2

3

2

3

2

3

4

3

2

5

3

2

6

2

1

7

4

2

8

3

1

9

4

1

10

5

3

Tabel 4.  Jumlah gigitan nyamuk saat Rangkaian Dinyalakan

Rumah


Pagi hari

Jumlah igitan                                   

Sore hari

1

1

1

2

0

2

3

0

1

4

1

0

5

1

0

6

0

1

7

2

1

8

0

1

9

0

0

10

0

2

Dari kedua tabel tersebut dapat kita lihat bahwa untuk rumah 1, jumlah gigitan  nyamuk sebelum alat dinyalakan selama 3 jam pada pagi hari adalah 4 gigitan.  Pada  hari   berikutnya  yaitu  saat  alat  dihidupkan  jumlah  gigitannya berkurang menjadi 1 gigitan. Pada sore harinya sebelum alat dihidupkan, jumlah gigitannya adalah 3 kali. Setelah dipasang alat jumlah gigitannya adalah 1 kali.

Di rumah 2, pada pagi hari sebelum dipasang alat, jumlah gigitan adalah 3 gigitan. Setelah alat dipasang jumlah gigitannya berkurang menjadi 0 atau tidak terdapat gigitan nyamuk. Untuk sore harinya jumlah gigitan nyamuk sebelum alat

dinyalakan adalah sebanyak 2, setelah alat dipasang jumlah gigitan tetap. Hal ini terjadi  karena  ada  beberapa  faktor  yang  mempengaruhinya,  seperti  suhu  atau kelembapan   udara   baik   di   dalam   rumah   ataupun   di   sekitar   alat,   karena diperkirakan   intensitas   getaran   pada   alat   akan   berkurang   bila   suhu   atau kelembapan yang ada di sekitarnya meningkat.

Demikian juga dengan rumah-rumah yang lain, telah terjadi pengurangan jumlah gigitan  ataupun tidak terjadi pengurangan (tetap). Dari 10 rumah yang telah diuji ternyata rumah ke-9 yang benar-benar tidak terdapat gigitan setelah alat dinyalakan baik di pagi hari ataupun sore  hari,  dimana sebelum alat dinyalakan gigitan yang terjadi adalah  4 pada pagi hari dan 1 pada sore hari.

Selain itu dapat juga dibandingkan, dari 10 rumah ternyata 3 rumah yang tidak  mengalami perubahan gigitan nyamuk dan hal ini terjadi hanya pada sore hari. Sedangkan pada pagi harinya jumlah gigitan nyamuk mengalami penurunan atau pengurangan. Ini berarti suhu atau kelembapan udara di sore hari pada ke tiga rumah tersebut hampir sama atau bisa juga  dikatakan sama. Sedangkan untuk kelembapan  atau  suhu                          pada  tujuh  rumah  lainnya  berbeda.  Sehingga  dapat diketahui bahwa dari 100% sampel rumah ternyata 70%                                          yang tingkat gigitan nyamuknya dapat dikurangi dengan menggunakan alat ini. Sedangkan 30%  dari sampel jumlah gigitan nyamuk dapat dikurangi pada pagi hari saja.

KESIMPULAN

Dari kegiatan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.      dari berbagai pngujian alat, dapat dilihat bahwa alat ini secara efektif dapat mengusir nyamuk.

2.      Pada  saat  alat  dihidupkan  pada  kotak  seluas  1  x  1  m  yang  telah  terisi nyamuk,   tampak   bahwa   nyamuk   Aedes   aegypti   cenderung   menjauhi rangkaian dan terlihat kacau.

3.      Rata-rata jarak terdekat nyamuk dengan alat pada pengujian di laboratorium sebelum alat dihidupkan adalah 8,142 cm dan setelah alat dihidupkan rata- rata jarak terdekatnya adalah 24,857 cm .

4.      pada pengujian alat di rumah-rumah penduduk, menunjukkan bahwa jumlah gigitan nyamuk setelah alat dinyalakan berkurang.

Penelitian ini dilakukan dengan peralatan yang sangat sederhana, sehingga hasil  pengamatan yang didapat tidak terlalu akurat. Untuk itu diperlukan suatu penelitian lanjutan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ackeman. Eiguene, 1979. Ilmu Biofisika Universitas Airlangga, Surabaya.

Hadi. U.K  2000.  Ektoparasit  ;  Pengenalan  Diagnosis,  dan  Pengendaliannya, Laboratorium Entomologi Bagian Parasitologi Dan Patologi, IPB, Bogor.

Imam. Purnomo, 1996. Konsep-konsep Fisika, PT. Intan Pariwara. Klaten. Lilies. Kristian, 1999. Kunci-kunci Determinasi Serangga, Kanisius. Bogor . Rusmadi. Dedy, 2001. Elektronika 2, Pioner Jaya. Bandung.

Sutrisno,  1984.      Fisika Dasar Seri Gelombang dan Optik,  Institut Teknologi

Bandung. Bandung.

Harian Tempo terbitan 12 Februari 2006

Download : PERANCANGAN PENGUSIR NYAMUK ELEKTRONIK SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: