Meramu Kemampuan Manajerial Kepala Sekolah

Sumber gambar : http://lppks.org

Persoalan seputar kepemimpinan dan kompetensi kepala sekolah bak lingkaran yang saling terhubung. Mulai dari kinerja pucuk kepemimpinan kepala sekolah, guru, siswa, bahan ajar, kurikulum, fasilitas, dana, hingga persoalan orangtua murid. Dari sekian banyak persoalan, kualitas kepala sekolah menempati posisi terpenting. Kemampuan manajerial dan kepemimpinan kepala sekolah inilah yang selama ini dinilai sebagai input sekolah yang palingberpengaruh terhadap keberlangsungan proses pendidikan di  sekolah.

Sebagaimana konsep desentralisasi dengan kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diterapkan, hal ini menuntut kepala sekolah tidak hanya menjadi seorang manajer yang lebih banyak berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan administratif. Mereka juga dituntut menjadi pemimpin yang mampu menciptakan visi sekolahatau dalam istilah Gardner (1983) kerap disebut”manajer pemimpin”.

 Terkait konsep ini, Slamet PH (2002) lebih rinci menyebutkan kompetensi yang wajib dimiliki kepala sekolah dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal di antaranya berwawasan ke depan (visi), mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan (misi) serta paham benar cara yang akan ditempuh (strategi). Selain itu, mereka harus pula memiliki kemampuan mengambil keputusan secara terampil.

Hanya memiliki kemampuan memobilisasi sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan tidak akan cukup apabila mereka belum mampu menggugah bawahannya untuk melakukan hal-hal penting bagi tujuan sekolahnya. Kemampuan kepala sekolah untuk membangun partisipasi terhadap guru, murid, ahli dan orangtua murid,  turut berperan pada saat menentukan keputusan partisipatif.

Sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No. 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah, pucuk pimpinan sekolah yang profesional harus berkompeten dalam menyusun perencanaan pengembangan sekolah secara sistemik. Hal ini berarti, kemampuandalam mengkoordinasikan dan memadukan setiap komponen dapat membentuk sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.

 Tidakan riil yang dapat dilakukan di antaranya, mengerahkan seluruh personil sekolah sehingga mereka dapat giat bekerja keras dengan sepenuh hati. Tujuan dari aksi tersebut semata-mata demi mencapai visi dan misi institusional sekolah yang berkompeten dalam pembinaan kemampuan profesional guru.

Kemampuan guru yang semakin terampil dalam mengelola proses pembelajaran, hal ini akan berpengaruh positif pada peningkatan kompetensi dalam melakukan monitoring dan evaluasi. Dengan demikian tidak satu pun komponen sistem sekolah yang berfungsi takoptimal.

Kompleksitas sekolah sebagai satuan sistem pendidikan menuntut adanya seorang kepala sekolah yang memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Sebagai kepala sekolah yang memiliki peran sentral, mereka dituntut mampu memegang otoritas pada pelaksanaan pendidikan, sehingga dapat berjalan secara efisien dan efektif.

Arifin Abdulrachman (2004:16) berpendapat bahwa tidak semua pemimpin dapat mempengaruhi dan menggerakkan orang lain dalam rangka mencapai suatu tujuan secara efektif dan efisien, sebab orang lain baru dapat dipengaruhi/digerakkan apabila ada kemampuan pada pemimpin untuk menggunakan teknik kepemimpinan. Serta, ada sifat-sifat khusus pada pemimpin  yang mempengaruhi jiwa seseorang sehingga kagum dan tertarik pada pemimpin tersebut.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa untuk mempengaruhi atau menggerakkan orang lain agar dengan penuh kesadaran dan senang hati bersedia melakukan dan mengikuti kehendak pemimpin maka pemimpin tersebut harus memiliki kemampuan dan memiliki sifat-sifat khusus.

Lebih lanjut, mengenai sifat-sifat yang harus dimiliki pemimpin, Harold Koontz dan Cyrill O’Donnell (1990:21) merincinya sebagai berikut:

      1. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan melebihi orang-orang yang dipimpinnya.

       2. Mempunyai perhatian terhadap kepentingan yang menyeluruh

       3. Mantap dalam kelancaran berbicara,

       4. Mantap berpikir dan emosi

       5. Mempunyai dorongan yang kuat dari dalam untuk memimpin,

       6. Memahami kepentingan tentang kerjasama.

Untuk mencapai efektivitas dalam kepemimpinannya, kepala sekolah harus memiliki tiga keterampilan konseptual berkaitan dengan keterampilan untuk memahami dan mengoperasikan organisasi. Keterampilan manusiawi berkaitan dengan keterampilan bekerjasama, memotivasi dan memimpin. Keterampilan teknis berkaitan dengan keterampilan dalam menggunakan pengetahuan, metode, teknik, dan perlengkapan untuk menyelesaikan tugas tertentu. (Dian)

http://lppks.org/berita/pendidikan/32/meramu-kemampuan-manajerial-kepala-sekolah
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: