About these ads

Alam Semesta Diciptakan

Di dalam Al Quran sebagai pedoman hidup kita banyak ayat-ayat yang berisi ajakan Allah kepada manusia untuk mempergunakan akalnya, untuk  berfikir, untuk mengamati alam semesta, menyadari keagungan dan kebesaran Allah SWT, sampai pada gilirannya kita akan senantiasa memujinya, mensyukurinya dan beribadah kepadaNya. Diantaranya pada Surat Al Imron ayat 190 Allah berfirman :

“Sesungguhnya dalam  penciptaan langit dan bumi,  dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda  bagi orang-orang yang berakal”

Pada surat Al Araf ayat 185 Allah SWT berfirman :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah”

Bila kita memandang sekilas, ke atas, di siang hari yang cerah, tampak sebuah bola besar bercahaya sangat terang seolah-olah menempel pada tepi sebuah ruang setengah bola yang sangat luas. Itulah matahari yang memegang peranan penting sebagai sumber energi di bumi ini. Matahari merupakan salah satu bintang. Bintang adalah benda yang memancarkan cahaya sendiri. Sedangkan bumi tempat kita berada adalah merupakan planet, benda yang tidak memancarkan cahaya sendiri, tetapi bumi dapat memantulkan cahaya dari matahari, sehingga jika dilihat dari bulan atau dari pesawat antariksa yang jauh dari bumi, bumi tampak bercahaya.

Pada saat yang lain jika kita memandang, cukup lama ke atas di malam hari yang cerah tampak benda-benda bercahaya yang jumlahnya sangat banyak seolah-olah menempel pada tepi sebuah ruang setengah bola yang sangat luas. Benda-benda tersebut sebagian besar adalah bintang yakni benda langit yang dapat memancarkan cahaya sendiri, yang lainya adalah planet yakni benda langit yang tidak dapat memancarkan cahaya sendiri tetapi dapat memantulkan cahaya yang diterima dari bintang,  tampak pula di langit gugus bintang yakni kumpulan beberapa bintang,  galaksi yakni kumpulan berjuta-juata bintang, kluster atau gugus galaksi yakni kumpulan dari galaksi-galaksi dan superklaster yakni kumpulan dari gugus galaksi.

Pengamatan benda-benda langit tersebut membawa kita kepada suatu perasaan bahwa kita seolah-olah berada pada sebuah benda yakni bumi yang melayang di ruang angkasa yang sangat besar, yang tampak tiada batas. Ruang itulah yang dikenal sebagai jagat raya atau alam semesta. Di dalamnya terdapat benda-benda dari yang sangat kecil sampai sangat besar. Benda yang sangat kecil disebut atom, ternyata atom masih dapat dibagi lagi menjadi partikel yang lebih kecil lagi yakni proton, neutron dan elektron, bahkan partikel-partikel proton, neutron dan elektron masih bisa dibagi lagi yakni menjadi partikel yang disebut kuark. Sedangkan benda yang sangat besar adalah super kluster yakni kumpulan gugus galaksi sebagaimana telah disebutkan tadi.

Untuk membayangkan betapa luasnya alam semesta ini, jarak dari bumi ke matahari kita adalah 150 juta km, jarak ini ditempuh oleh cahaya selama 8 menit. Sedangkan kecepatan merambatnya cahaya adalah 300 ribu km perdetik.  Galaksi adalah kumpulan berjuta-juta bintang bahkan galaksi yang besar dapat mencapai sekitar 3 milyar bintang-bintang. Di alam semesta ini dengan menggunakan teleskop dapat diamati berjuta-juta galaksi. Jarak galaksi  yang dekat dengan bumi kita yakni awan Maggelan adalah 0,2 juta tahun jika ditempuh oleh cahaya, jarak galaksi Andromeda ke bumi kita adalah 2 juta tahun jika ditempuh oleh cahaya. Bahkan disebutkan ada galaksi yang karena jauhnya dari bumi kita,  sampai saat ini cahayanya belum sampai ke bumi kita.

Beberapa ahli filsafat, misalnya George Politzer mengatakan bahwa alam semesta tidak diciptakan karena sudah ada, kekal dari dulu sampai nanti, alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan, melainkan ada dengan sendirinya. Paham ini dikenal sebagai paham materialisme yakni paham atau  sistem berpikir yang meyakini bahwa materi atau zat sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak, dan menolak keberadaan apapun selain materi. Paham materialisme menolak keberadaan Tuhan. George Politzer, salah seorang penganut paham materialisme berpendapat bahwa alam semesta atau jagat raya tidak diciptakan, tetapi sudah ada sebelumnya, kekal sejak dulu sampai yang akan datang. Tapi berbagai penemuan sains dan teknologi yang berkembang pada abad 20 meruntuhkan paham materialisme tersebut.

Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson california, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble menemukan bahwa ketika ia mengamati bintang-bintang, spektrum cahaya yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke arah merah atau ke arah frekuensi yang lebih kecil. Apa artinya ?

Hal ini mirip dengan bunyi sirine, jika sirine bergerak mendekati kita, frekensinya akan terdengar lebih besar, sebaliknya bunyi sirine akan lebih kecil frekeunsinya ketika menjauhi kita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa frekuensi yang dipancarkan bintang-bintang bergeser ke arah merah atau ke arah frekuensi yang lebih keci, berarti bintang-bintang itu bergerak menjauhi kita. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa antara bintang satu dengan bintang lainnya, antara galaksi satu dengan galaksi lainnya saling menjauh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alam semesta semakin mengembang karena bergerak saling menjauh satu sama lain.

Berkaitan dengan mengembangnya alam semesta, perhatikan firman  Allah dalam QS. Adz Dzaariyaat, 51:47 :

 “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”.

 Kata meluaskannya pada ayat tersebut diartikan langit semakin luas. Dalam istilah para ahli alam semesta mengembang.

Apa arti mengembangnya alam semesta ? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika kita pikirkan waktu sebelum sekarang, jika kita pikirkan waktu  mundur ke belakang,  mundur ke masa lampau, maka dapat disimpulkan bahwa alam semesta menurut perhitungan para ahli berasal dari satu titik tunggal. Alam semesta terbentuk melalui ledakan titik tunggal yang dikenal sebagai Big Bang (Ledakan Besar). Teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta terbentuk dari ledakan besar dari sebuah titik tunggal telah diterima oleh para ahli karena telah didukung oleh bukti-bukti hasil pengamatan.  Perhitungan para ahli fisika menunjukkan bahwa titik tunggal yang merupakan asal dari semua materi dan energi alam semesta haruslah mempunyai volume nol dan kerapatan tak terhingga. Pernyataan teoritis volume nol yang dikemukakan oleh para ahli secara sederhana dapat dikatakan “ketiadaan”. Jadi alam semesta diciptakan dari “ketiadaan”. Fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam AlQuran 14 abad yang lampau :

Pada  QS al Anam ayat 101, Allah berfirman :

“Dia yakni Allah pencipta langit dan bumi. “

Selanjutnya pada QS Al anbiya ayat 30 Allah berfirman :

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya.”

Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan semua  alam semesta serta penyebarannya ke segenap ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini muncullah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai galaksi, bintang, planet, satelit  dan benda angkasa lainnya. Hukum alampun terbentuk yang kemudian disebut “hukum fisika”, yang seragam di seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang.

Padahal yang namanya ledakan tidak mungkin menimbulkan tatanan sempurna. Semua ledakan cenderung menghancurkan dan mengacaukan yang ada, contoh adalah ledakan kompor, ledakan dinamit , ledakan bom dan sebagainya.

Makanya ketika kita tahu tentang adanya tatanan yang sempurna setelah ledakan besar (Big bang), kita dapat menyimpulkan bahwa ada suatu campur tangan dari “Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa” di balik ledakan Big bang ini, dan segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan Big bang ini telah digerakkan secara sangat terkendali. Setelah melakukan perhitungan yang teliti tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davis dan Stephen Hawking, keduanya adalah profesor fisika teori terkemuka meyakini bahwa kecepatan mengembangnya Big bang ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Sedikit lebih lambat, alam semesta ini akan runtuh. Sedikit lebih cepat keseluruhan materi alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Big Bang bukanlah sekedar ledakan jaman dulu, tetapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat.

Tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa alam semesta yang terjadi melalui ledakan besar adalah terbentuk dengan sendirinya dan terjadi secara kebetulan. Pembentukan tatanan yang seimbang setelah ledakan besar (Big bang) adalah merupakan satu bukti adanya Sang Pencipta, beserta Ilmu, keagungan dan Hikmah-Nya, yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Sang pencipta ini adalah Allah, Tuhan seluruh sekalian Alam.

Di dalam Al Quran surat al Mulk ayat 3, Allah SWT berfirman :

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang ?”

Keyakinan terhadap Pencipta alam semesta, keimanan kepada Allah, keesaan Allah, Kemahakuasaan Allah adalah suatu keyakinan yang sudah semestinya “Haqqul Yakin”.  Adapun penemuan-penemuan ilmu dan teknologi akan semakin memperkuat keyakinan dan keimanan kita, karena keyakinan dan keimanan di samping didasari oleh dalil Naqli, yakni dalil dari Al Quran, tetapi juga diperkuat oleh dalil Aqli yakni dalil berdasarkan akal.

Semoga keyakinan kita kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta, keimanan kepada Allah SWT akan ditindaklanjuti dengan amal dan perbuatan kita dalam beribadah kepadaNya, karena Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, diibadati. Hanya kepadaNyalah kita tunduk patuh dan menyerahkan diri. Wallohualam bis showab.

 

Sumber :

  • Depag, Al Quran dan Terjemahnya
  • Black Holes and Baby Universes, Stephen Hawking, PT Gramedia, Jakarta. 1995
  • Harun Yahya, Keajaiban Al Quran

Catatan  Admin :

Ayat-ayat  Al Quran diyakini kebenarannya, oleh karenanya diyakini  tidak  bertentangan dengan sains.  Berkaitan dengan sains,  Al Quran bukan buku tentang sains, tetapi buku  yang mengajak  manusia memikirkan tentang alam semesta, buku yang mengajak manusia belajar tentang sains. Wallohualam bis showab.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: