Advertisements

Soft Skill Seberapa Pentingkah Bagi Kepala Sekolah?

Dalam setiap diklat calon kepala sekolah yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) – Indonesia, ada sebuah penugasan yang terkesan remeh, namun di balik itu ada makna dan dampak yang luar biasa bagi peserta diklat. Nama penugasan itu adalah ‘pesan berantai’. Pelaksanaannya adalah penyelesaian tugas secara kelompok, atau kalau di LPPKS menggunakan istilah suku. Kepala suku akan diberi sebuah pesan pendek, kira-kira terdiri dari 20 kata. Pesan tersebut harus disampaikan kepada suku mulai dari anggota urutan pertama, untuk diteruskan ke urutan berikutnya hingga urutan paling terakhir, yang sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa dan dengan jarak tertentu, agar dalam menyampaikan pesan tadi anggota suku lain tidak mendengarnya. Anggota terakhir ini yang bertugas mencatat pesan yang telah disampaikan mulai anggota urutan pertama hingga dirinya. Apa pesan yang sampai kepada anggota kelompok paling belakang? Pesan yang utuh atau pesan yang tidak lengkap?

Sudah bisa kita tebak hanya sebagian kata yang mampu diingat oleh masing-masing anggota kelompok. Hal itu terjadi karena waktu yang dibatasi, dan gangguan atau distorsi dari luar. Pesan yang sampai kepada anggota kelompok paling belakang pun menjadi berantakan, dan sudah berubah jauh dari pesan awal. Betapa pentingnya sebuah pesan. Oleh karena itu pesan harus disampaikan dengan cara yang jelas, singkat, dan benar sehingga pesan  tersebut  akan sampai kepada penerima dengan benar. Dengan kata lain, komunikasi harus berjalan dengan meminimalisir segala bentuk gangguan. Tak dapat kita bayangkan, apa yang terjadi dan betapa bahayanya apabila seorang kepala sekolah tidak mampu menyampaikan informasi atau pun pesan kepada lingkungan sekolah, dalam hal ini guru, murid, atau pun orangtua murid.

Penugasan di atas tadi adalah sebuah bentuk latihan kemampuan berkomunikasi. Menurut hasil survei yang diterbitkan oleh National Association of Colleges and Employers (NACE) pada tahun 2002 di Amerika Serikat, kemampuan berkomunikasi menempati urutan tertinggi (4,69%) dari 20 kualitas yang dianggap penting dari seorang lulusan universitas. Kualitas-kualitas di peringkat atas lainnya setelah kemampuan berkomunikasi adalah hal-hal yang kadang dianggap sepele, seperti kejujuran, kemampuan bekerja sama, etos kerja, kemampuan beradaptasi dan lain-lain. Itulah yang dinamakan soft skill.

Seorang kepala sekolah dituntut untuk pandai berkomunikasi, karena ia harus berinteraksi dengan lingkungan dan personal yang memiliki beraneka ragam karakter dan dalam kondisi yang  tertentu. Keunggulan akademis saja ternyata tidak menjamin seorang kepala sekolah mampu menjalankan tugasnya  dengan baik dan diterima oleh lingkungannya. Berdasarkan penelitian ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata- mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian yang dilakukan di Harvard University Amerika Serikat dihasilkan suatu kesimpulan bahwa kesuksesan ditentukan 20% hard – skill dan 80% soft skill yang dapat kita definisikan saebagai kemampuan-kemampuan yang tak terlihat yang diperlukan untuk sukses.

Namun sayang sekali kenyataaan yang terjadi di dunia pendidikan kita, hard skill mempunyai porsi yang lebih besar. Bahkan tragisnya lagi dan tanpa disadari, orientasinya justru pada muatan hard skill. Seberapa besar muatan softkill yang seharusnya ada dalam kurikulum pendidikan jika sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skill?

Bagaimana dengan para calon kepala sekolah sebagai pemimpin di lingkungan sekolah dan sebagai seorang yang harus memiliki kemampuan manajerial yang bagus? Dalam memimpin, tentu banyak sekali permasalahan yang akan dihadapi. Apalagi berhadapan dengan orang yang memiliki karakter yang berbeda- beda. Oleh karena itu ia dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik, mampu bekerja sama, memiliki motivasi, mudah beradaptasi dan lain sebagainya. Oleh karena itu seorang kepala sekolah harus berusaha dan mau menambahkan ke dalam kurikulum yang sudah berjalan dengan pendidikan soft skill. Hal itu menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dan untuk melakukan itu tidaklah mudah. Kepala sekolah harus menyiasati agar muatan- muatan soft skill bisa disertakan pada proses kegiatan pembelajaran, termasuk juga kepada para gurunya.

Konsep soft skill sendiri sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill bisa diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Untuk itu secara garis besar soft skill bisa digolongkan menjadi dua, yakni  intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness dan self skill. Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness dan social skill.

LPPKS (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah-Indonesia) yang memiliki tugas melakukan program penyiapan dan pemberdayaan kepala sekolah sudah mengaplikasikan muatan-muatan soft skill  dalam setiap  diklat yang diselenggarakannya, tentu saja setelah para calon kepala sekolah dinyatakan lolos dalam seleksi, baik administratif maupun akademis. Kita bisa melihat, sebelum calon kepala sekolah mengikuti diklat, calon kepala sekolah belum memiliki kemampuan soft skill yang baik. Ketika mereka melakukan registrasi untuk mengikuti diklat, tampak sekali rasa ego-nya yang masih sangat tinggi, tidak memiliki kesabaran yang seharusnya dimiliki oleh setiap pendidik (dalam hal ini adalah calon kepala sekolah).  Tidak sabar ketika harus mengantri, entah itu urusan check-in kamar hotel , atau ketika mereka  merasa tidak dilayani panitia  dengan baik. Perubahan akan sangat tampak ketika mereka telah mengikuti diklat, bahkan setelah pada hari pertama berlangsungnya diklat. Pada hari pertama diklat, mengacu pada pengalaman diklat-diklat yang terdahulu, sebelum  calon kepala sekolah mengikuti diklat secara keseluruhan, muatan soft skill sudah diberikan. Seperti contoh di atas, yakni dengan melakukan penugasan dinamika kelompok. Dalam dinamika kelompok tersebut sarat dengan latihan meningkatkan kemampuan soft skill.

Penugasan yang diberi nama ‘pesan berantai’ di atas hanya sebagian kecil dari upaya meningkatkan soft skill para calon kepala sekolah. Ada banyak lagi penugasan yang sifatnya menumbuhkan sikap koordinatif, toleransi, sabar, motivasi, menghargai orang lain. Semua itu akan muncul dengan sendirinya ketika mereka berbaur dengan banyak orang, yang masing- masing memiliki kelebihan. Dengan bekerja sama dengan orang lain, seorang calon kepala sekolah akan mengamati kelebihan yang dimiliki calon kepala sekolah yang lain untuk kemudian diserapnya sebagai tambahan kelebihan dalam hal soft skill-nya. Tak heran, setelah calon kepala sekolah mengikuti kegiatan diamika kelompok, sikap dan perilakunya sudah menunjukkan perubahan yang signifikan. Mereka menjadi ‘care‘ dengan lingkungan di sekitarnya. Suasana berubah sangat kekeluargaan dan dinamis.  Peserta calon kepala sekolah yang semula tak acuh, menjadi ramah dan koordinatif.

Betapa pentingnya seorang kepala sekolah harus memiliki kemampuan soft skill yang baik. Sebab kecerdasan intelektual (akademik) jika tidak diimbangi dengan kecerdasan non-akademik (soft skill), seseorang akan menjadi tidak sempurna. Seorang kepala sekolah yang cerdas saja, jika perilakunya tidak bijaksana, tidak toleran, tidak memotivasi, tetap saja ia akan ditolak oleh lingkungannya. Dan jangan heran, jika kepemimpinannya di lingkungan sekolah akan cepat berakhir lebih cepat dengan sendirinya.  Kiranya tepat sekali, jika dalam pelaksanaan seleksi calon kepala sekolah, kemampuan soft skill ini dijadikan sebagai indikator terhadap kelulusan seleksi. Jadi, kepala sekolah tidak hanya cerdas secara akademis, akan tetapi juga cerdas non-akademiknya.

Nurhidayat, Redaktur Pelaksana Majalah Principals

(Majalah Principals No. 5 Tahun ke-2 / Agustus 2012,  http://www.lppks.org)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: