Advertisements

Makna dan Hikmah Halal bi Halal

Halal bi Halal adalah suatu bentuk ungkapan khusus pada waktu dan tempat tertentu sebagai pengganti dari kata Silatur-Rahmi pada kedua hari raya islam yang telah membudaya di beberapa Negara di Asia Tenggara khusnya Indonesia. Jika kita kembali pada sejarah Islam, sejak zaman Rasulullah SAW, sahabat, para tabi’ dan tabi’ tabi’in bahkan hingga saat ini, maka kita tidak akan mendapatkan istilah Halal bi Halal kecuali Silatu Rahim. Meskipun Istilah Halal bi Halal ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “Halal dengan yang halal” atau “sama-sama saling menghalalkan” atau kadang pula diartikan dengan “saling maaf memaafkan/saling menghalalkan dosa masing-masing” namun terdapat kerancuan pemahaman di kalangan orang Arab itu sendiri (ashab al-lughah) terhadap penggunaan dan maksud dari istilah ini. [Read more…]

Advertisements

Memahami Kembali Makna Idul Fitri

Ketika mendengar kata Idul Fitri, tentu dalam benak setiap orang yang ada adalah kebahagiaan dan kemenangan. Dimana pada hari itu, semua manusia merasa gembira dan senang karena telah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh.

Dalam Idul Fitri juga ditandai dengan adanya ”mudik (pulang kampung)” yang notabene hanya ada di Indonesia. Selain itu, hari raya Idul Fitri juga kerap ditandai dengan hampir 90% mereka memakai sesuatu yang baru, mulai dari pakaian baru, sepatu baru, sepeda baru, mobil baru, atau bahkan istri baru (bagi yang baru menikah). Maklum saja karena perputaran uang terbesar ada pada saat Lebaran. Kalau sudah demikian, bagaimana sebenarnya makna dari Idul Fitri itu sendiri. Apakah Idul Fitri cukup ditandai dengan sesuatu yang baru, atau dengan mudik untuk bersilaturrahim kepada sanak saudara dan kerabat?. [Read more…]

Ketiadaan Waktu & Realitas Takdir

Materialisme tak pernah percaya akan adanya suatu di balik materi. Demikian pula pemahamannya terhadap waktu, mereka meyakini waktu bersifat mutlak dan abadi, yang karenanya tidak ada yang menciptakan waktu. Padahal kenyataannya waktu itu bersifat relatif, yang meniscayakan adanya Sang Pencipta di baliknya. Fakta ini tidak hanya diberitakan dalam Al Quran, tapi juga dikukuhkan oleh pendapat para fisikawan modern.

Meluruskan pemahaman tentang waktu ini menjadi sangat penting, karena berkaitan erat dengan konsep takdir_yang merupakan pengetahuan sempurna Allah tentang peristiwa masa lalu dan masa yang akan datang. Dengan meyakini relativitas waktu inilah, seseorang menjadi begitu lapang untuk menerima takdir Allah.

(harunyahya.com)

Al Quran Menghitung Kecepatan Cahaya

NAMA Albert Einstein melekat dengan dunia fisika dan menjadi ikon fisika modern. Rumus E = mc2 dianggap sebagai rumus Einstein yang dalam pandangan awam merupakan “rumus” untuk membuat bom atom. Albert Einstein memang pantas dianggap sebagai tokoh utama yang memimpin revolusi di dunia fisika.

Salah satu teorinya yang mendobrak paradigma fisika berbunyi “kecepatan cahaya merupakan tetapan alam yang besarannya bersifat absolut dan tidak bergantung kepada kecepatan sumber cahaya dan kecepatan pengamat”.

Menurut Einstein, tidak ada yang mutlak di dunia ini (termasuk waktu ) kecuali kecepatan cahaya. Selain itu, kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini. Artinya, tidak mungkin ada (materi) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya. Pendapat Einstein ini mendapat dukungan dari hasil percobaan yang dilakukan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh Michelson-Morley, Fizeu, dan Zeeman. [Read more…]

Alam Semesta Diciptakan

Di dalam Al Quran sebagai pedoman hidup kita banyak ayat-ayat yang berisi ajakan Allah kepada manusia untuk mempergunakan akalnya, untuk  berfikir, untuk mengamati alam semesta, menyadari keagungan dan kebesaran Allah SWT, sampai pada gilirannya kita akan senantiasa memujinya, mensyukurinya dan beribadah kepadaNya. Diantaranya pada Surat Al Imron ayat 190 Allah berfirman :

“Sesungguhnya dalam  penciptaan langit dan bumi,  dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda  bagi orang-orang yang berakal”

Pada surat Al Araf ayat 185 Allah SWT berfirman :

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah” [Read more…]

Analisis Garis Tanggal Awal Ramadhan dan Syawal 1433 H

******************** Dokumentasi T. Djamaluddin ******************** ======================================================== _____ Berbagi ilmu untuk pencerahan dan inspirasi _____

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Gambar ilustrasi hilal dari ICOP

Garis tanggal qamariyah dibuat berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Itu mudah dibuat dengan menggunakan perangkat lunak astronomi yang kini sudah banyak tersedia, baik yang gratis maupun yang komersial. Salah satunya bisa didownload dari situs ICOP berupa program Accurate Time . Dengan program semacam itu, hisab bukan lagi hal yang rumit, baik untuk menghitung masa lalu maupun masa akan datang. Masalahnya adalah menafsirkan garis tanggal itu dan memilih kriteria yang kita gunakan. Kriteria harus ditentukan berdasarkan kesepakatan, karena tawaran kriteria astronomi juga beragam. Antara lain, kriteria Yallop, kriteria Odeh, dan Djamaluddin-LAPAN. Accurate Time menggunakan kriteria Odeh. Berikut ini garis tanggal awal Ramadhan dan Syawal 1433 dari Accurate Time dan interpretasi implementasinya. Awal Ramadhan 1433 berpotensi berbeda, sedangan Idul Fitri 1433 insya-allah akan seragam.

Garis Tanggal Ramadhan 1433 H

Gambar di atas…

View original post 245 more words

%d bloggers like this: